Sabtu, 11 Oktober 2008

ALLAH NOMOR SATU ATAU DUA ?


Suatu hari dalam diskusi tentang agama terjadi dialog antara beberapa pemeluk agama. Sang Moderator melemparkan pertanyaan “ Apakah orang Yahudi & Nasrani masuk surga ??? Tidaaak!!! Yang masuk surga hanya orang Islam !! Seru beberapa peserta muslim menjawab dengan serempak. Tetapi orang Nasrani & Yahudi secara bergantian juga tak mau kalah mengutip ayat ayat yang berada dalam Al Quran:
[Al Baqarah :62] Sesungguhnya orang-orang mu′min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati
[Al Maidah: 69 ) Sesungguhnya orang-orang mu′min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Ayat tersebut memang dapat membuat banyak penafsiran, ada yang mengatakan ketiganya (Yahudi, Nasrani, Shabiin) akan menerima pahala dari Allah setelah beragama Islam dulu. Ada juga yang berpendapat semua akan mendapat pahala meskipun berlabel Yahudi, Nasrani & Shabiin selama mereka percaya (beriman) pada Allah.
Seorang peserta Muslim menjawabnya dengan lantang : “Yang namanya beriman itu tidak sekedar percaya saja tetapi juga harus TIDAK MENYEKUTUKANNYA !!
Dari diskusi di atas saya hanya ingin melihat kepada diri kita sendiri & kemauan kita menguliti ketaukhidan diri sendiri ( untuk Yahudi & Nasrani biarlah jadi urusan mereka). Benarkah dalam kehidupan kita selama ini kita juga benar benar sudah tidak menyekutukanNya? Untuk mengukurnya, ada sedikit test question kepada diri kita masing masing :
  • Apakah pada saat kita menghadap Allah atau untuk bisa dekat dengan Allah, kita masih sering berusaha membayangkan/memvisualisasikan Allah dengan materi? (bisa berupa sosok manusia yang kita agungkan, patung, foto, cahaya, warna, getaran, frekuensi dsb) sedang kan Allah sudah jelas jelas tidak serupa dengan apa pun.
  • Apakah kita masih sering merasa aman berlindung kepada selain Allah? (bisa berupa batu, keris, patung,dukun, deposito/harta,dsb) Sehingga setiap ada kejadian, yang kita ingat pertama kali adalah karena daya benda benda tersebut, baru kemudian ingat Allah ( Allah nomor dua), yang biasanya diperhalus dengan kata kata “semua atas ijin Allah”.
Dari dua pertanyaan tersebut, semua jawaban hanya kita sendiri yang bisa mengukurnya. Saya tidak tahu isi hati & pikiran anda sekalian. Mari kita amati saja diri kita masing masing & nggak perlu mengarahkan telunjuk kepada yang lain.
Wassalam,
I-ONE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar